Kamis, 19 Februari 2015

Kisah Pedih Cinta, Setelah Pasangan Tiada

Ketika cinta telah terucap, seharusnya setiap orang yang menyatakannya, menjaga cinta itu agar tetap hidup, meski orang yang dicintai telah tiada. Tiga cerita berikut, selayaknya bisa menjadi tauladan bagi setiap pasangan yang saat ini sedang memadu kasih. Dikutip dari laman Desinema, berikut adalah tiga kisah cinta inspiratif sekaligus pedih:

Lelaki yang menikahi kekasih yang telah wafat

Cintai ia sepenuhnya, selagi napas masih di kandung badan. Hal inilah yang sangat disesali oleh seorang pria bernama Deffy. Saat kekasihnya masih hidup, dan terus memohon agar mereka segera menikah, lelaki itu mengaku sibuk, sehingga tak kunjung mememuhi permintaan pacarnya. Barulah setelah sang kekasih yang bernama Sarinya wafat, niat untuk menikah itu muncul.

Namun karena sudah tidak bisa memutar waktu untuk kembali, Deffy memutuskan untuk tetap menikahi gadis tersebut, di hari ia dimakamkan. Dengan meneteskan air mata, pria ini menyematkan cincin pernikahan di jari manis gadis yang telkh tiada itu. Seketika, raungan tangis sedih menderu, datang dari pihak keluarga, dan pelayat lain yang tak kuasa menyaksikan momen menyentuh hati ini.

Pria yang membangun Taj Mahal palsu untuk mendiang istri

Merasa pedih ditinggal wafat istrinya, seorang kakek bernama Faizul Hasan Quadri, umur 77 tahun, memutuskan untuk membangun tiruan Taj Mahal untuk mengenang wanita itu. Seperti kita ketahui bersama, Taj Mahal yang asli, memang dibangun oleh seorang raja India, untuk mengenang istrinya yang telah tiada.

Wajar kalau hati Faizul terasa pedih, sebab ia mengarungi hidup bersama istrinya, semenjak wanita itu remaja. Gadis itu dinikahinya saat wanita itu masih berusia 14 tahun. Karena belum bisa membaca, saat itu Faizul yang mengajarinya membaca dan menulis dalam bahasa Urdu.

Saat masih hidup, karena tak memiliki anak, sang istri sering menangis, karena khawatir nanti saat ia wafat, tak ada anak yang akan mengenangnya. Untuk melibur lara sang istri, Faizul katakan, ia akan membangun sebuah banguan megah layaknya Taj Mahal, supaya nanti semua orang akan mengingat istrinya sepanjang waktu.

Dan setelah sang istri mafat, lelaki renta ini menepat janjinya. Ia membuat bangunan persis Taj Mahal seorang diri. Meski ukuran bangunan itu akhirnya hanya setinggi rumah dua lantai, namun orang-orang di sekitarnya kagum, dengan ketulusan cinta sang suami, yang demikian mencintai mendiang istrinya.

Membelah gunung yang halangi kesembuhan istrinya

Saat sedang merayu, kami yakin banyak pria mengatakan `akan aku belah gunung untuk buktikan cintaku.` Meski hal tersebut terkesan gombal, namun nyatanya seorang lekaki di India terbukti benar-benar membelah gunung untuk membuktikan cintanya.

Cerita bermula, saat istri pria bernama Dashrath Manjhi ini sakit. Untuk menemui dokter, pria ini harus menggendong istrinya, dan menempuh perjalanan terjal, naik gunung untuk bertemu sang ahli medis yang berada di bagian berlawanan dari desanya, dua desa yang dihalangi sebuah gunung kecil, mirip bukit.

Akibat harus naik gunung, Das terlambat membawa istrinya sampai di tempat sang dokter. Akhirnya sang istri mengembuskan napas terakhir. Karena merasa gunung itu menjadi penyebab kematian istrinya, Das kemudian bersumpah untuk membelah gunung itu. Akhirnya sedikit demi sedikit dengan menggunakan cangkul, kampak, atau alat tajam lainnya, Das mengoyak dinding gunung itu.

Karena terus menerus membelah gunung, warga setempat kemudian menjulukinya sang manusia gunung. Dibutuhkan waktu 22 tahun bagi Das untuk membuat jalan setapak di perbukitan Gehlour, India itu. Ia berharap, agar setelah jalanan ini terbentuk, orang-orang tidak lagi harus kehilangan keluarga mereka, untuk mendapat pengobatan, seperti yang istrinya alami.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .